Kesalahan K3 Yang Masih Dilakukan Para Pekerja

Kesalahan K3 Yang Masih Dilakukan Para Pekerja

Usaha perbaikan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3), baik dari sisi engineering atau teknis untuk mengurangi kecelakaan kerja sudah dilakukan, tetapi kenapa angka kecelakaan kerja di perusahaan masih tinggi? Apakah perusahaan Anda mengalami permasalahan serupa?

Menyikapi permasalahan diatas, ahli K3 di Amerika Serikat menyatakan kalau peran kesalahan manusia atau human error dalam kecelakaan kerja ternyata sangat signifikan. Human error menjadi sebab 80% sampai 90% kecelakaan kerja. Aspek manusia memang memegang peranan penting dalam sistem K3, juga sebaliknya dalam menentukan terjadinya kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja tidak hanya menyebabkan cedera pada pekerja, tetapi juga beresiko pada kerusakan alat bahkan dapat menghilangkan nyawa pekerja. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada hal yang lebih besar, yaitu kwalitas, produksi, dan profitabilitas (kemampuan memperoleh laba atau keuntungan) perusahaan. Kesalahan dalam K3 apa sajakah yang sering dilakukan pekerja? Berikut penjelasannya!

  1. Pekerja memiliki kebiasaan berasumsi atau mengira-ngira

” Kecelakaan tidak akan pernah terjadi pada saya ” atau ” lingkungan kerja ini sudah aman kok, tentu tidak akan terjadi masalah ” Pekerjaan minyak dan gas juga rawan dalam hal kecelakaan kerja yang  mengangkat tema pertamina solusi bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan di salah satu seminanya.

 

Kebiasaan berasumsi atau terlalu percaya diri (over-confident), mungkin masih sering dilakukan kebanyakan pekerja. Berasumsi atau mengira-ngira kalau kondisi kerja sudah aman dan tidak akan terjadi masalah, hingga tidak diwajibkan bertindak apapun adalah perilaku yang keliru dan tidak tepat. Menerka-nerka atau merasa diri akan selalu aman saat bekerja hanya akan membuat Anda celaka.

 

Perilaku pekerja yang suka berasumsi atau mengira-ngira memang disebabkan banyak aspek, salah satunya pengalaman pekerja, pelatihan pekerja, tingkat pendidikan, dan budaya ditempat kerja. Hindari berasumsi atau mengira-ngira, pastikan kondisi lingkungan dan prosedur kerja benar-benar aman dengan rutin memeriksanya. Organisasi dengan budaya K3 yang kuat selalu waspada dan percaya kalau kondisi yang aman meskipun dapat bermasalah.

 

  1. Membiarkan kecelakaan kerja yang terjadi dan tidak melaporkannya pada atasan

Ada saja pekerja yang malas atau dilema untuk melaporkan setiap kecelakaan kerja yang sudah terjadi di perusahaannya. Apakah Anda salah satunya, sahabat pro safety? Alhasil, banyak sekali kasus kecelakaan kerja yang tidak muncul ke permukaan dan terbiarkan jadi rahasia atau tim itu. Dilema melaporkan kecelakaan kerja biasanya disebabkan karena masih banyak pekerja yang berasumsi kalau kecelakaan kerja dapat berpengaruh terhadap performa pada individu yang mengalami insiden tersebut atau pada departemen dari individu tersebut.

Perlu Anda pahami sahabat pro safety, setiap kecelakaan atau potensi kecelakaan yang muncul, sebaiknya janganlah dibiarkan begitu saja karena dapat menyebabkan masalah yang lebih besar di masa yang akan datang. Setiap pekerja wajib melaporkan kecelakaan kerja, near miss, atau penyakit akibat kerja (PAK) pada atasannya. Dengan begitu, atasan Anda bersama tim akan melakukan investigasi dan melakukan perbaikan agar kecelakaan kerja serupa tidak terulang kembali. Aksi pencegahan inilah yang diperlukan untuk meminimalkan angka kecelakaan kerja.

 

  1. Menggunakan peralatan kerja yang salah dan/atau cara penggunaannya yang salah

Kesalahan ini juga termasuk sering terjadi ditempat kerja. Baik pekerja lama atau baru suka menggunakan peralatan kerja atau alat pelindung diri yang tidak tepat sesuai peruntukan pekerjaannya atau menggunakan perlengkapan kerja yang benar namun cara penggunaannya yang salah.  alat kerja yang sesuai seharunya penggunaan jaket safety, celana safety ataupun sepatu safety. Akibatnya, kecelakaan yang tidak terduga-duga atau kerusakan dan cacat pada pekerja, hasil pekerjaan, atau kerusakan pada alat itu sangat mungkin terjadi. Kebiasaan ini biasanya disebabkan kurangnya pengetahuan pekerja, pengalaman pekerja, dan kurangnya pengawasan.

Oleh karena itu, pastikan perusahaan melakukan pengawasan agar peralatan kerja yang digunakan sesuai dengan jenis pekerjaan, peralatan terawat dengan baik, dan pastikan pekerja yang menggunakan peralatan itu juga terlatih. Pemilihan peralatan kerja yang tepat sangat penting untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang maksimal. Biasakan menggunakan peralatan yang sesuai dengan ukuran dan kegunaannya. Bila sudah menggunakan peralatan kerja, pastikan Anda menyimpannya ke tempat semula agar tidak membahayakan pekerja lain.

 

  1. Pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja

Mungkin safety officer ditempat kerja Anda sering mendapati para pekerjanya tidak menggunakan alat pelindung diri  saat melakukan suatu pekerjaan. Entah tidak menggunakan safety helmet, sepatu safety, tidak menggunakan alat pelindung jatuh saat bekerja di ketinggian atau tidak menggunakan pelindung mata dan wajah saat melakukan pekerjaan las. Banyak alasan yang melatarbelakangi pekerja malas menggunakan APD, salah satunya:

  • APD yang digunakan tidak cocok atau tidak nyaman saat dipakai
  • Ketidaktahuan pekerja harus memakai APD
  • Tidak memiliki waktu untuk memakai APD atau memakai APD hanya menggunakan waktu dan merepotkan
  • Pekerja sering beranggapan atau terlalu percaya diri kalau dirinya tidak akan celaka
  • Lupa bila harus memakai APD

Sebenarnya jika saat bekerja menggunakan alat pelindung diri yang tepat akan mencegah kecelakaan kerja yang berkelanjutan. jika anda membutuhkan peralatan safety, anda hanya perlu melakukan request kepada bagian pengadaan barang di perusahaan anda.  bisa juga anda membeli sendiri, mudah.. jika anda butuh sepatu keselamatan anda tinggal membeli mencari yang jual  sepatu safety online,  ada banyak penjual alat pelindung diri jika anda membutuhkannya. Peran safety officer atau pengawas sangat penting untuk menangani persoalan ini. Selain itu, pihak perusahaan juga harus sediakan APD yang nyaman dan cocok untuk pekerja, memberikan pelatihan pemilihan dan penggunaan APD, memasang rambu K3 APD di ruang kerja, dan melakukan pengawasan dan berani menegur pekerja yang lupa menggunakan APD.

  1. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan

Efisiensi dan efektivitas terkadang dijadikan alasan pekerja untuk melakukan pekerjaannya dengan tergesa-gesa. Padahal hal semacam ini dapat membuat pekerja itu melakukan kesalahan yang nantinya akan membahayakan dirinya. Terutama bila pekerjaan itu memerlukan konsentrasi tinggi, bekerja dengan tergesa-gesa hanya akan mengurangi konsentrasi pekerja dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. Melakukan short cut tanpa memperhitungkan aspek keselamatan juga bisa meningkatkan terjadinya kecelakaan.

Lakukan pekerjaan sesuai prosedur dan hindari mengambil jalan pintas (short cut). Bila Anda memang diwajibkan melaksanakan pekerjaan dengan cepat, pastikan Anda juga memperhitungkan aspek keselamatannya juga dan ikuti prosedur bekerja aman yang sudah diterapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s